SURYA ONLINE Tuesday, 16 September 2008
Yang jelas, untuk satu tahun saja, korban kecelakaan berkendara di negeri kita mencapai 30.000 korban.
Sudah menjadi tradisi tahunan di negeri kita, setiap bulan Ramadhan tiba, fenomena arus mudik lebaran menjadi berita yang aktual sebelum hari Lebaran tiba. Bulan di mana banyak para perantau pulang ke kampung kehalaman untuk melepas rasa rindu kepada keluarga dan sanak saudara.
Bulan dimana ada pertemuan yang sangat haru antara anak dan orang tua dengan isak tangis melepas rindu. Dan bulan dimana Allah SWT memerlihatkan watak manusia yang sesungguhnya, yakni saling menyayangi dan mengasihi anta sesama.
Demi untuk momen yang hanya datang setahun sekali ini, ribuan kaum perantau sanggup ngantri berjubelan memenuhi setiap halaman terminal, stasion, dan bandara menunggu giliran tranportasi yang akan mengantarkannya pulang ke bumi kelahirannya.
Terik matahari yang terkadang tak kenal kompromi, rasa lapar dan haus yang sudah pasti mereka alami, tidak membuat hati para pemudik ini patah arang. Semua mereka korbankan demi untuk berkumpul bersama keluarga yang telah lama tidak mereka jumpai.
Namun di balik itu semua, terkadang kita terlalu ironi menyaksikan pelayanan pemerintah dan agen transportasi yang kurang mempersiapkan dan memperhatikan keselamatan para pemudik saat diperjalanan.
Akibatnya, seringkali transportasi kendaran yang mengangkut pemudik ini mengalami kerusakan teknisi di tengah perjalanan dan seringkali berujung pada kecelakaan maut yang banyak merenggut nyawa penumpang. Yang pasti, gelombang arus mudik yang sudah pasti banyak menimbulkan kemacetan lalu lintas ini, telah banyak menelan korban.
Ratusan nyawa pemudik harus melayang di atas penantian keluaga dan anak yang belum mereka jumpai. Kondisi jalan yang terjal dan berlubang serta curamnya medan perjalanan menjadi penyebab seringnya kecelakaan ini, ditambah lagi derasnya lalu lintas jalanan dan kondisi fisik kendaraan yang kebanyakan sudah berumur tua, menjadi potensi besar bagi terciptanya kecelakaan lalu lintas.
Minim Perhatian Pemerintah
Kalau boleh kita bilang, perhatian pemerintah terhadap keselamatan penumpang di negeri kita masih sangat minim, terutama terhadap pengawasan kondisi kendaraan transportasi yang layak pakai, serta kondisi jalanan yang seringkali sudah rusak. Sedangkan pihak agen perjalanan terkadang hanya mementingkan kepentingannya sendiri yang sifatnya profit tanpa memikirkan keselamatan penumpang. Inilah yang membuat negara kita saat ini memiliki reputasi yang sangat buruk di mata dunia internasional.
Sebagai ilustrasi, berdasarkan data Ditjen Perkeretaapian Dephub, Mei 2008, dari 342 lokomotif milik PT KA, sebanyak 109 lokomotif berusia di atas 40 tahun. Sedangkan dari 1.275 kereta, sebanyak 412 kereta berusia di atas 40 tahun. Karena itu, tak heran jika sering terjadi kecelakaan kereta api. Kecelakaan juga akibat kualitas sumber daya manusia dan prasarana rel yang tidak mumpuni.
Hal yang sama juga terjadi di angkutan udara, seringnya terjadi kecelakaan pesawat membuat reputasi penerbangan kita menjadi buruk di mata dunia. Begitu juga yang terjadi di angkutan-angkutan lainnya seperti kapal laut dan kendaraan darat.
Seringkali transportasi-transportasi ini telah berusia tua yang seharusnya tidak lagi layak pakai. Kasus keluarnya kereta api dari jalur relnya, pesawat terbang yang jatuh dan hilang ditengah perjalananya, kendaraan darat dan laut yang terbakar, masuk jurang, tabarakan akibat rem blong saat di pejalanan merupakan fenomena klasik yang masih juga belum memperoleh perhatian yang serius.
Yang jelas, untuk satu tahun saja, korban kecelakaan berkendara di negeri kita mencapai 30.000 korban.
Perhatian terhadap kondisi fisik alat transportasi merupakan salah satu persyaratan yang vital bagi keselamatan penumpang. Disamping itu kondisi jalanan yang baik juga harus menjadi fokus perhatian pemerintah yang sudah semenstinya ditanggapi secara serius, agar kelancaran dan keselamatan para pemudik selama dalam perjalanan dapat terjamin dengan baik. Seringkali kita melihat keteledoran ini mengakibatkan banyak
kendaraan mengalami kecelakaan maut yang sulit dihindari.
Persoalan transportasi bukanlah persoal yang ringan. Yang hanya bisa diselesaikan dengan sambil lalu saja. Karena bagaimanapun juga permasalahan ini sangat erat kaitannya dengan keselamatan penumpang. Kesalahan dalam memperhatikan semua jalur penting yang seharusnya menjadi perhatian yang serius, tentu akan sangat berakibat
fatal bagi penumpangnya. Maka yang harus dilakukan oleh pihak-pihak yang terkait
dalam menghadapi melonjaknya angkutan lebaran tahun ini adalah menyiapkan dengan sebaik-baiknya fasilitas kendaraan yang layak pakai dan memang benar-benar telah
lulus uji. Jangan samapai kita kebobolan lagi mengenai permasalahan ini. Departeman pehubungan dalam hal ini harus benar-benar menjalankan fungsinya sebagai pihak yang
aling bertanggung jawab dalam persoalan ini.
Di pihak lain, perusahaan biro perjalanan harus lebih dulu mengutamakan kepentingan penumpang dengan penyediaan dan memberikan pelayanan kendaraan yang layak pakai. Jangan asal-asalan menggunakan kendaraan tanpa ada kelayakan pakai hanya untuk mengeruk keuntungan besar dengan memanfaatkan momen lebaran yang hanya datang satu tahun sekali.
Apalagi yang seringkali terjadi pihak penjual tiket terlalu terburu-buru menaikkan harga tiket penumpang tanpa peduli dengan kondisi alat trasportasi yang mereka tawarkan untuk pemudik.
Dari kalkulasi jumlah angkutan untuk Lebaran tahun ini, dengan kategori pesawat terbang berjumlah 183 pesawat, 593 kapal laut, 34.395 kendaraan Bus, dan 342 Kereta Api (KA), harapan kita semua yang tersedia ini layak pakai dan dapat semakin memperlancar perjalanan para pemudik nantinya. Jangan sampai publik dikecewakan lagi
oleh perusahaan pengadaan transportasi yang hanya memikirkan keuntungan semata.
D isamping itu, pemerintah juga harus mulai sadar bahwa dibentuknya negara memiliki fungsi penting untuk memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada warga negaranya. Karena negara itu sendiri merupakan pelayan bagi rakyatnya, maka dikatakan sebagai
negara yang baik adalah negara yang melayani dan memenuhi kebutuhan masyaraktnya.
Saatnya kita mulai perbaiki reputasi transportasi kita yang telah terlanjur memperoleh nilai merah.
Muhibin AM
Peneliti pada LeKAS Jogjakarta
<!–[if !mso]>
Filed under: ANGKUTAN UMUM, BERITA ANGKUTAN TERKINI